MINDSET

Mei 8, 2009 at 5:52 pm (Pendidikan) (, , , , , , , , )

Seorang jurnalis akan mengetik dengan dua jari sampai pensiun. Tetapi, bukan karena dia tidak cukup berlatih  mengetik. Dia mengetik setiap hari, namun belajar mengetik dengan dua jari akan membuat orang lebih pandai mengetik dengan dua jari. Sebaliknya, kursus singkat mengetik yang dijalani anak pada usia muda akan membuatnya menjadi pengetik sepuluh jari yang lebih baik seumur hidupnya.

Fatkhul Muin

Iklan

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KONSISTENSI

Januari 22, 2009 at 5:39 am (1, mahasiswa tegal) (, , , , , )

muinJanganlah engkau menghina sesuatu yang lebih rendah darimu karena segala sesuatu mempunyai kelebihan.


Dengan merubah bahan bacaanku saja ternyata bisa berubah minatku atas sesuatu. Hanya dengan menggeser nomor ponselku, bisa bergeser pula profesiku. Tetapi ke manapun minat dan proses itu menuju ia selalu bertemu dengan rasa takut, mentok, dan tantangan yang terkadang kita anggap masalah baru yang sangat menghalangi kesuksesanku.

Dalam pandangan hidup, ketika kita begitu terlanjur mementingkan sesuatu yang lain akan kita anggap sederhana, atau kita sengaja menganggap wajar. Jikalau yang satu berfokus runcing, yang lebih banyak akan mengabur dengan persetujuan kita. Mengambil satu yang penting bukan berarti melempar dan menyia-nyiakan kepunyaan kita yang lain, karena semua ternyata penting dan tidak ada yang paling penting sehingga tak perlu ada yang paling aku anggap sepele cuma gara-gara sedang ada yang ku anggap paling penting.

MMG muin

Terinspirasi oleh mas Prie

Permalink 2 Komentar

ANAKKU JADI ANGGOTA DPR

Januari 22, 2009 at 5:23 am (1, islam, mahasiswa tegal, Pendidikan)

INTEGRITAS MENTAL PENGUASA TERHADAP HARTA BENDA

Seorang ayah mengadakan adat jawa “Tedak Siti” untuk anaknya yang berusia 7 bulan. Si balita di dalam kurungan ayam disuruh memilih uang, bir, majalah playboy dan Al-Qur’an.

Detak jantung si ayah berdabar-debar dan berspekulasi nanti apa yang akan dipilih anaknya….. Ternyata si balita tanpa ragu mengambil Al-Qur’an…. Menyaksikan pilihan si balita para kerabat yang hadirpun tersenyum manis….. dan sang ayah masih saja dia tak mengeluarkan kata-kata, tetapi malah menunjukkan muka sedih dan malu karna dalam benaknya jangan-jangan anakku cuma jadi ustadz ngaji yang bisa makan sekedar ayam saja kalau ada rumah yang habis tahlilan… dengan kata lain sang ayah kecewa berat…………

Setelah itu sang balita seolah-olah merasa Al-Qu’ran yang dipilihnya terlalu berat sehingga melempar Al-Qu’ran tersebut dan dia mengambil majalah Playboy dan uang… Diapun melihat disampingnya sebotol bir dan ia meminumnya…. Sang ayah langsung girang dan berucap……….. Hebat, hebat, hebat….. anakku hebat. Nanti kalau besar nanti pasti jadi anggota DPR…… yes… yes… yes… terima kasih tuhan.

Tulisan jenaka dapet dari sms raden mas ndoro kendo dengan editan

MMG Muin

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

IMAN DAN REVOLUSI

Desember 28, 2008 at 6:04 am (1, islam, mahasiswa tegal, Pendidikan) (, , , , , , , , , , , , , , , )

Sebuah Rekontruksi Teologi Islam Tradisional

Dewasa ini, kalau kita berbicara gerakan pemikiran Islam di Indonesia bisa dikatakan masih relatif jarang yang concern membahas problem sosial dan kemanusiaan dalam perspektif keagamaan (baca: tafsir keagamaan). Bahkan bisa dikatakan gerakan pemikiran Islam yang ada belum membuka diri pada kemodernan pemikiran secara sadar. Karena itu, implikasinya agama tidak dapat memberikan solusi dan jawaban atas problem sosial dan kemanusiaan yang dihadapi masyarakat muslim kontemporer. Hal ini terlihat dengan kegagapan ketika menghadapi persoalan seperti HAM, demokrasi, pluralisme agama dan kesetaraan gender. Kegagapan pemikiran Islam ini diungkapkan dengan baik oleh Mohammed Arkoun:

Pertama, pemikiran Islam itu “naif ” karena mendekati agama atas dasar kepercayaan langsung dan tanpa kritik.

Kedua, pemikiran Islam tidak menyadari jarak antara makna potensial terbuka yang diberikan dalam wahyu Ilahi dan aktualisasi makna itu dalam sejumlah makna yang diaktualisasikan dan dijelmakan dalam berbagai cara pemahaman, penceritaan dan penalaran khas masyarakat tertentu, atau pun dalam berbagai wacana ajaran khas aliran teologis (kalam) dan fikih (mazhab) tertentu.

Ketiga, pemikiran Islam juga tidak sadar akan berbagai faktor sosial, budaya, psikis, politis dan lain-lain yang mempengaruhi proses aktualisasi tersebut.

Keempat, pemikiran Islam juga tidak menyadari bahwa proses itu bukan hanya mengakibatkan pemahaman dan penafsiran tertentu ditetapkan dan diakui, melainkan pemahaman dan penafsiran lain justru disingkirkan.

Pendek kata, secara tersirat Arkoun ingin menegaskan bahwa pemikiran Islam yang berjalan selama ini hanya mengakibatkan pembekuan nalar umat Islam dan penutupan agama, ideologi dan revoulsi merupakan unsur-unsur yang ternyata tidak dapat diingkari potensinya untuk mensukseskan atau sebaliknya merusak bagi sebuah upaya untuk membangun masyarakat.

Hal itu juga berlaku bagi Islam, agama langit (din samawi) terakhir yang diturunkan oleh tuhan ke bumi, sebagaimana terbukti dalam sejarahnya yang sudah berlangsung empat belas abad. Mengingkari hal ini berarti membuat islam menjadi hanya sebuah agama ibadah dalam artian sempit atau paling jauh agama hukum.

Islam bergulat sebuah agama yang mementingkan tindakan (dirumuskan dalam sebuah amal), dengan ideologi dan revolusi. Pergulatan itu terkadang mengambil bentuk sekedar menyerap, tanpa diolah terlebih jauh, premis-premis yang ditawarkan ideologi ataupun revolusi. Namun terkadang terjadi juga dialog intensif antara Islam dengan keduanya. Karena bagaimanapun juga, ideologi tidak selamanya menghasilkan revolusi, dan revolusi seringkali dilancarkan terhadap ideologi yang sedang menikmati kemapanan.

Ada dua tipe masyarakat.

Pertama masyarakat tradisional yang sumber inspirasinya masih berupa tradisi. Ia membawa sistem nilai-nilai dan merupakan argumen bagi kekuasaan. Secara historis, masyarakat di Afrika, Asia dan Amerika Latin berasal dari tipe ini. dalam masyarakat ini, tradisi merupakan arus utama dalam sejarah. Pembangunan tidak pernah berlangsung tanpa memertimbangkan tradisi-tradisi yang hidup ini. tradisi-tradisi ini memberikan weltanschauung kepada rakyat dan menentukan bermacam-macam motivasi untuk bertindak. Pembangunan sekuler didasarkan atas perekayasaan manusia. Tujuannya untuk mengubah infrastruktur masyarakat tradisional dalam upaya meningkatkan kemajuan yang seimbang di tengah berbagai kegagalan super-struktur.

Kedua masyarakat non-trdisional atau yang disebut masyarakat modern, yang telah melewati periode kritik terhadap tradisi. Dalam masyarakat ini, tradisi tidak lagi menjadi sumber nilai. Ada beberapa sumber pengganti dan norma-norma tindakan pengganti, seperti akal dan alam. Pengetahuan sejarah yang berupa serita menjadi subjek bagi kritik paling akurat.

KERANGKA KONSEPTUAL

Sistem-kepercayaan tradisional dimulai dengan analisis terhadap kerangka konseptual yang menjadi dasar terbentuknya sistem kepercayaan. Pengantar teoritis ini hampir tidak mengembangkan apapun hingga setelah ia menjadi sesuatu.tidak mengembangkan apapun hingga setelah ia menjadi sesuatu.tidak mengembangkan apapun hingga setelah ia menjadi sesuatu.

Apakah kepercayaan atau sistem-kepercayaan itu?

Kepercayaan atau sistem kepercayaan merupakan suatu ensambel konsep-konsep yang menentukan persepsi-persepsi manusia tentang dunia dan memberikan motivasi-motivasi kepadanya untuk bertindak. Sebuah visi yang sederhana tentang dunia dan komitmen dengannya. Ia bukan misteri yang melampaui akal atau keputusan yang buta dan berubah-ubah tentang kehendak yang menggantikan kapasitas manusia.

Perkembangan sistem-kepercayaan

Setiap sistem kepercayaan berkembang dari gabungan antara teks-teks suci dan kelompok-kelompok kepentingan.

Pertama, ia dimulai dengan penggunaan teks baru itu sendiri secara sederhana tanpa tindakan-tindakan teorisasi. Teks itu sendiri tanpa disertai akal, akan menjadi argumen kekuasaan. Kebutuhan akan suatu teori kemandirian yang didasarkan atas fakta yang tersusun belum juga muncul (abad I dan II).

Kedua, ia berkembang kepada bermacam-macam topik tanpa memunculkan suatu tema umum.

Ketiga, berbagai topik yang brmacam-macam terikat dalam prinsip-prinsip atau asas-asas yang dipersiapkan untuk suatu struktur yang jelas. Teologi pun mencapai puncaknya sebagai suatu disiplin (abad V, VI dan VII). Sistem-kepercayaan mencapai derajat rasionalisasi yang tinggi.

Keempat, setelah disisplin rasional yang merupakan kekuatan-kekuatan krearifitas dalam semua ilmu kebudayaan dan keagamaan lain berakhir hingga ujungnya, sistem-kepercayaan yang sebagian besar telah lengkap mengalami kegagalan dan kembali ke fase pertama. Iman menjadi mandiri tanpa pemahaman ataupun tindakan. Kepercayaan dipelihara sebagai dogma tanpa disertai rasionalisasi.

Struktur sistem-kepercayaan warisan terbagi menjadi dua bagian.

Pertama, kepercayaan-kepercayan rasional, yaitu kepercayaan-kepercayaan yang berupa benar dan menolak doktrin-doktrin yang salah. Kerpercayaan-kepercayaan ini ada dua bentuk yaitu pengesaan tuhan (mentingkap dzat dan sifat-sifat tuhan) dan keadilan tuhan (menyingkap perbuatan-perbuatan, kehendak dan peraturan-peraturan tuhan).

Kedua, keprecayaan-kepercayaan tekstual, yaitu kepercayaan-kepercyaan yang hanya bergantung pada argumen-argumen tekstual tanpa didasarkan atas fakta internal yang tersedia. Tidak ada kriteria benar dan salah, kecuali dengan memperhatikan derajat itensitas histories terhadap argumen tekstual.

TEORI PENGETAHUAN

Risalah-risalah tradisional tentang kepercayaan dimulai dengan teori tentang pengetahuan untuk menjawab pertanyaan pertama “bagaimana mengetahuinya”, sebelum pertanyaan yang kedua “apa yang harus diketahui”.

Pengetahuan terdiri dari dua macam, yaitu pengetahuan alam dan pengethuan teoritis. Yang pertama lahir dalam diri manusia bersama dengan kelahirannya. Yang kedua diperoleh dari dunia luar. Yang pertama adalah bukti yang berasal dari indera dan yang kedua adalah pemikiran berdasarkan atas kumpulan pengalaman yang berasal dari indera, perasaan atau akal manusia yang sangat mendasar.

Kemudian hadir pengetahuan sejarah, yaitu pengetahuan yang datang lewat cerita dn teks-teks, penetahuan yang datang melalui riwayat lisan atau tulisan. Wahyu telah terkomunikasikan kepada manusia melalui tipe pengetahuan ini. namun demikian cerita tidak bisa begitu saja digunakan sebagai argument tanpa bukti sensual atau rasipnal. Teks adalah argument otoritas bukan argument rasional. Suatu argument tekstual akan tetap bersifat hipotesisi jika jika tidak ditunjang oelh argument sensual atau rasional. Ia harus tetap tunduk kepada interpretasi-interpretasi linguistik kepada aturan ampibologis.

Suatu kepercayaan adalah untuk dipercaya, bukan untuk dirasakan atau difahami. Argumen tekstual kini berdiri sendiri sebagai auatu Argumen mandiri yang membuktikan dan meyakinkan “firman tuhan” dan “nabi”. Rekontruksi teori pengetahuan mengakibatkan ia kembali kepada integrasinya pada masa permulaan. Ini akan memberikan peluang kepada masyarakat muslim yang sebenarnya utnuk bergantung kepada persepsi sealitas, serta behubungan langsung denga watak dan rasionalisasi dunia. Analisis terhadap pengaaman sehari-hari mengarah kepada pengetahuan eksperimental. Berfikir dalam realitas dan berfikir atas data rasional akan membawa lagi teori pengetahuan ke depan objeknya, yakni dunia lahir. Dengan demikian, sistem-kepercayaan dapat dibuka kembali dan ditarik kembali dari keterasingannya yang mengorientasikan diri lagi kepada dunia.

TEORI KEBERDAAN

Teori pengetahuan adalah untuk menjawab pertanyaan “bagaimana mengetahui” dan mengarh kepada dunia lahiriah. Sedngkan teori keberadaan untuk menjawab pertanyaan “apa yang harus dilakukan”, yang menganggap dunia lagiriah sebagai objek pengetahuan. Jiak teori pengetahuan mengarah kepada akal, maka keberadaan mengarah kepada alam. Seluruh sistem kepercayaan harus dimulai dengan menentukan hubungan antara akal dan alam. Meski kita membahas suatu sistem kepercayaan, namun objek pengetahuannya buakan tuhan adau kehidupan abadi, melain keberadaan materi dan dunia lahiriah.

SEJARAH MANUSIA

Ramalan dan eksaktologi telah menampakkan sejarah ketuhanan. Dalam hal ini tuhan mencapurtangani dengan mengirim nabi-nabi yang membawa wahyu dan dengan membawa kembali seluruh dunia kepadaNya untuk pengadilan terakhir. Oleh karena itu sejarah tercermin dengan iman dan tindakan, dan dengan kepemimpinan dan revolusi. Fungsi masa lalu adalah untuk memberikan kumpulan pengalaman kepada masa sekarang. Fungsi masa depan adalah untuk memberikan harapan kepada masa sekarang. Masa sekarang adalah peran waku yang menjadi basis masa lalu dan masa depan.

IMAN DAN AMAL

Manusia diajak membuktikan kesetiaan pada tuhan melalui perhubungan secara langsung. Nabi-nabi dan Rasul-rasul sebelum Nabi Muahmmad SAW terpaksa meyakinkan pengikut mereka tentang wujudnya tuhan melalui perbuatan dan tindakan.

Apakah iman itu? Apakah iman hanya sekedar pengatahuan yakni pengetahuan tentang dzat sifat-sifat dasn perbuatan tuhan bahkan tanpa merasakannnya dalam kata-kata atau mentransformasikannya ke dalam praksis? Iman sebagai pengetahuan itu sendiri merupakan suatu pengetahuan kosong yang sederhana. Ia jauh kecil lebih dibandingkan dengan yang dituntut wahyu sebagai motivasi bagi amal. Apakah iman merupakan gabungan antara ilmu pengetahuan dn perasaan itu sendiri, tanpa eksteriosasi dalam kata-kata dan dalam tindakan-tindakan. Pengetahuan dan perasaan tiu sendiri merupakan dua dimensi dari dunia internal kesadaran. Namun demikian kesadaran adalah internal dan sekaligus eksternal. Pengetahuan dan erasaan tidk dapat diprtahankan untuk mencakup kesdaran karena realisasinya ke dalam kata-kata dan tindkan-tindakan berlangsung secara alami dengan kekuatan ekseteriosasi

muin

terinsiprasi oleh mas also

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

INTELEGENSI DAN EMOSI

Desember 7, 2008 at 7:43 am (islam)

Intelegensi dan keberhasilan dalam pendidikan adalah dua hal yang saling keterkaitan. Di mana biasanya individu yang memiliki intelegensi yang tinggi dia akan memiliki prestasi yang membanggakan di kelasnya, dan dengan prestasi yang dimilikinya ia akan lebih mudah meraih keberhasilan.

Namun perlu ditekankan bahwa intelegensi itu bukanlah IQ di mana kita sering salah tafsirkan. Sebenarnya intelegensi itu menurut “Claparde dan Stern” adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi dan kondisi baru. Berbagai macam tes telah dilakukan oleh para ahli untuk mengetahui tingkat intelegensi seseorang. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat intelegensi seseorang. Oleh karena itu banyak hal atau faktor yang harus kita perhatikan supaya intelegensi yang kita miliki bisa meningkat.

Emosi sangat memegang peranan penting dalam kehidupan individu, Ia akan memberi warna kepada kepribadian, aktivitas serta penampilannya dan juga akan mempengaruhi kesejahteraan dan kesehatan mentalnya

Disamping itu emosi juga mengambil peran penting dalam menentukan sikap individu yang lansung berhubungan dengan suasana hati yang muncul akibat perbedaan emosi dan dipengaruhi fakor internal dan eksternal. Sehingga timbul berbagai macam emosi seperti, gembira, marah, sedih, iri hati, dll.

Respon tubuh terhadap timbulnya emosi yang berlebihan akan mengakibatkan perubahan tubuh secara fisiologis, sperti denyut jantung menjadi cepat, muka memerah, peredaran darah menjadi cepat, bulu roma berdiri dll. Dan bagaimanakh kita dapat memelihara dan memenej emosi.

Meskipun semua orang tahu apa yang dimaksud dengan intelegensi atau kecerdasan, namun sukar sekali untuk mendefinisikan hal ini secara tepat. Banyak sekali definisi yang diajukan para sarjana, namun satu sama lain berbeda, sehingga tidak dapat memperjelas persoalan.

Banyak pakar psikologi yang memeberikan definisi Intelegensi.Claparedese dan Stern memberikan definisi intelegensi adalah penyesuaian diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru. K. Bluher mendefinisikan intelegensi adalah perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian. Sedangkan menurut David Wechsler, Intelegensi adalah kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.

Dari definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan yang menjelaskan ciri-ciri dari intelegensi:

  1. Intelegensi merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berfikir secara rsional. Oleh karena itu, intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulakan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berfikir rasional itu.
  2. Intelegensi tecermin dari tindakan yang terarah pada penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang timbul daripadanya.

Dalanm psikologi, pengukuran intelegensi dilakukan dengan menggunakan alat-alat psikodiagnostik atau yang dikenal dengan istilah Psikotest. Hasil pengukuran intelegensi biasanya dinyatakan dalam satuan ukuran tertentu yang dapat menyataakan tinggi rendahnya intelegensi yang diukur, yaitu IQ (Intellegence Quotioent).

Secara umum kita dapat mengatakan bahwa intelegensi tidak hanya merupakan suatu kemampuan untuk memecahkan berbagai persolan dalam bentuk simbol-simbol (seperti dalam matematika), tetapi jauh lebih luas menyangkut kapasitas untuk belajar kemampuan untuk menggunakan pengalaman dalam memecahkan berbagai persoalan, serta kemampuan untuk mencari berbagai alternatif.

Contoh perbuatan yang menyangkut intelegensi: Jika seseorang mengamati taman bunga, ini adalah persepsi. Tetapi kalau ia mengamati bunga-bunga yang sejenis atau mulai menghitung, manganalisa, membandingkan dari berbagai macam bunga yang ada dalam taman tersebut, maka perbuatanya sudah merupakan perbuatan yang berintelegensi.

  1. . Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intelegensi

a. Pengaruh faktor bawaan

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa individu-individu yang berasal dari suatu keluarga, atau bersanak saudara, nilai dalam tes IQ mereka berkolerasi tinggi ( + 0,50 ), orang yang kembar ( + 0,90 ) yang tidak bersanak saudara ( + 0,20 ), anak yang diadopsi korelasi dengan orang tua angkatnya ( + 0,10 – + 0,20 ).

b. Pengaruh faktor lingkungan

Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Oleh karena itu ada hubungan antara pemberian makanan bergizi dengan intelegensi seseorang. Pemberian makanan bergizi ini merupakan salah satu pengaruh lingkungan yang amat penting selain guru, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting, seperti pendidikan, latihan berbagai keterampilan, dan lain-lain (khususnya pada masa-masa peka).

c. Stabilitas intelegensi dan IQ

Intelegensi bukanlah IQ. Intelegensi merupakan suatu konsep umum tentang kemampuan individu, sedang IQ hanyalah hasil dari suatu tes intelegensi itu (yang notabene hanya mengukur sebagai kelompok dari intelegensi). Stabilitas inyelegensi tergantung perkembangan organik otak.

d. Pengaruh faktor kematangan

Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya.

e. Pengaruh faktor pembentukan

Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi.

f. Minat dan pembawaan yang khas

Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan (motif-motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar.

g. Kebebasan

Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah sesuai dengan kebutuhannya.

Semua faktor tersebut di atas bersangkutan satu sama lain. Untuk menentukan intelegensi atau tidaknya seorang individu, kita tidak dapat hanya berpedoman kepada salah satu faktor tersebut, karena intelegensi adalah faktor total. Keseluruhan pribadi turut serta menentukan dalam perbuatan intelegensi seseorang.

  1. Intelegensi dan IQ

IQ adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan IQ (Intelegence Quotient) yang hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan. Atau dengan kata lain, IQ menunjukkan ukuran atau taraf kemampuan intelegensi /kecerdasan seseorang yang ditentukan berdasarkan hasil test intelegensi. Sedangkan intelegensi adalah merupakan suatu konsep umum tentang kemampuan individu. Sehingga istilah intelegensi tidak dapat disamakan artinya dengan

Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age atau MA) dengan umur kronolog (Chronological Age atau CA), skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar penghitungan IQ.

.

MA = Adalah kemampuan lebih yang dimliki individu pada saat itu

CA = Adalah yang seharusnya dimiliki oleh individu pada saat itu

Namun kemudian timbul permasalahan karena MA akan mengalami stograsi dan penurunan pada waktu itu, tetapi CA terus bertambah. Masalah ini kemudian diatasi dengan membandingkan skor seseorang dengan skor orang lain dalam kelompok umur yang sama. Cara ini disebut “perhitungan IQ berdasarkan norma dalam kelompok (Within Group Normal) dan hasilnya adalah IQ penyimpangan atau deviation IQ.

Dengan cara perhitungan seperti ini, maka oramg yang IQ sama dengan rata-rata kelompok akan memeperoleh nilai 100. nilai yang lebih tinggi atau lebih rendah dari nilai rata-rata kelompok akan menentukan posisi IQ orang tersebut dalam kelompok umurnya.

3. Pengukuran Inteligensi

Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.

Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.

Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.

Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.

4. Inteligensi, Bakat dan Kreativitas

Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.

Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.

Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.

Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.

A. Pengertian Emosi

Kata “emosi” diturunkan dari kata bahasa Perancis, emotion. Emosi adalah pengalaman yang bersifat subjektif, atau dialami berdasarkan sudut pandang individu. Emosi berhubungan dengan konsep psikologi lain seperti suasana hati, temperamen, kepribadian, dan disposisi.

Al-Ghazali mendefinisikan emosi merupakan kumpulan perasaan yang ada dalam hati manusia. Jadi emosi identik dengan perasan. Perasaan gembira, sedih, takut, benci, cinta dan amarah merupakan bentuk emosi. Firman Allah yang berhubungan dengan perasaan dan emosi.

Arti : Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. (QS. 32:16)

Namun ada pendapat lain yang mendefinisikan emosi adalah reaksi yang kompleks yang mengandung aktivitas dengan derajat yang tinggi dan adanya perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan dengan perasaan yang kuat.

Menurut Syamsu Yusuf emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu: emosi sensoris dan emosi psikis. Emosi sensoris yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang dan lapar. Emosi psikis yaitu emosi yang mempunyai alasan-alasan kejiwaan, seperti : (1) perasaan intelektual, yang berhubungan dengan ruang lingkup kebenaran; (2) perasaan sosial, yaitu perasaan yang terkait dengan hubungan dengan orang lain, baik yang bersifat perorangan maupun kelompok; (3) perasaan susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika (moral); (4) perasaan keindahan, yaitu perasaan yang berhubungan dengan keindahan akan sesuatu, baik yang bersifat kebendaan maupun kerohanian; dan (5) perasaan ke-Tuhan-an, sebagai fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (Homo Divinas) dan makhluk beragama (Homo Religious).

1. Sebab-Sebab Perbedaan Emosi

Terjadinya perbedaan emosi dikarenakan oleh :

a. Emosi itu sangat dalam, misalnya antara yang sangat marah dengan yang takut, mengakibatkan aktifitas badan yang sangat tinggi.

b. Seseorang dapat memahami dan mengahayati emosi dengan berbagai cara, misalnya, perbedaan individu jika marah, mungkin dia gemetar mungkin memaki-maki dan mungkin lari.

c. Istilah yang diletakan pada ‘emosi’ yang didasarkan pada sifat rangsang bukan pada keadaan, misalnya takut adalah emosi yang timbul terhadap suatu bahaya, marah adalah emosi yang timbul terhadap suatu yang menjengkelkan .

d. Emosi subyektif dan intropeksi sukar dikenali karena akan dipengaruhi oleh lingkungan.

2. Macam-Macam Emosi

• Takut: Emosi ini cenderung atau sering disebabkan oleh situasi sosial tertentu, biasanya kondisi ketakutan pada suatu obyek yang nyata. Misalnya, takut berada di tempat yang gelap atau sepi.

• Khawatir: Khawatir ini merupakan bentuk ketakutan, tetapi lebih bersifat imajiner atau khayalan. Dalam pikiran dan keyakinan kita diyakini konkret keberadaannya. Kekhawatiran muncul kalau intensitas ketakutan meningkat. Misalnya, khawatir kalau kita tidak berhasil melakukan sesuatu atau tidak lulus ujian.

• Marah: Marah bersifat sosial dan biasanya terjadi jika mendapat perlakukan tidak adil atau tidak menyenangkan dalam interaksi sosial. Marah membuat kita menjadi tertekan. Saat kita marah denyut jantung kita bertambah cepat dan tekanan darah naik. Napas pun tersengal dan pendek, otot menegang.

• Sebal: Sebal terjadi kalau kita merasa terganggu, tetapi tidak sampai menimbulkan kemarahan dan cenderung tidak menimbulkan tekanan bagi kita. Sebal akan muncul berkaitan dengan hubungan antarpribadi, misalnya kita sebal melihat tingkah teman atau si pacar yang enggak perhatian.

• Frustrasi: Frustrasi merupakan keadaan saat individu mengalami hambatan-hambatan dalam pemenuhan kebutuhannnya, terutama bila hambatan tersebut muncul dari dirinya sendiri. Konsekuensi frustrasi dapat menimbulkan perasaan rendah diri. Kita dianggap mampu memberikan respons positif terhadap rasa frustrasi kalau mampu memahami sumber-sumber frustrasi dengan logis. Namun, reaksi yang negatif juga dapat muncul dalam bentuk agresi fisik dan verbal, pengalihan kemarahan pada obyek lain serta penghindaran terhadap sumber persoalan atau realitas hidupnya.

• Cemburu: Cemburu adalah suatu keadaan ketakutan yang diliputi kemarahan. Perasaan ini muncul didasarkan perasaan tidak aman dan takut status atau posisi kita yang sangat berarti bagi diri kita akan digantikan oleh orang lain. Yang paling sering kita alami adalah cemburu kalau melihat cowok atau cewek kita dekat sama orang lain atau sahabat kita mulai dekat dengan teman lain.

• Iri Hati: Emosi ini ditunjukkan pada orang tertentu atau benda yang dimiliki orang lain. Hal ini bisa menjadi hal yang berat bagi kita karena berkaitan dengan materi yang juga menunjukkan status sosial. Misalnya, kita iri karena melihat si A lebih cantik, kaya, populer daripada kita.

• Dukacita: Dukacita merupakan perasaan galau atau depresi yang tidak terlalu berat, tetapi mengganggu individu. Keadaan ini terjadi bila kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat berarti buat kita. Kalau dialami dalam waktu yang panjang dan berlebihan akan menyebabkan kerusakan fisik dan psikis yang cukup serius hingga depresi.

• Afeksi atau Sayang: Afeksi adalah keadaan emosi yang menyenangkan dan obyeknya lebih luas, memiliki intensitas yang tidak terlalau kuat (tidak sekuat cinta), dan berkaitan dengan rasa ingin dimiliki dan dicintai.

• Bahagia: Perasaan ini dihayati secara berbeda-beda oleh setiap individu. Bahagia muncul karena remaja mampu menyesuaikan diri dengan baik pada suatu situasi, sukses dan memperoleh keberhasilan yang lebih baik dari orang lain atau berasal dari terlepasnya energi emosional dari situasi yang menimbulkan kegelisahan dirinya.

3. Perubahn Tubuh Pada Saat Terjadi Emosi

Terpesona : Reaksi elektris pada kulit.

Marah : Peredaran darah bertambah cepat.

Terkejut : Denyut jantung bertambah cepat.

Kecewa : Bernafas panjang

Cemas : Air liur mengering

Takut : Berdiri bulu roma

Tegang : Terganggu pencernaan, otot tegang dan bergetar.

4. Memelihara Emosi

Emosi sangat memegang peranan penting dalam kehidupan individu, akan memberi warna kepada kepribadian, aktivitas serta penampilannya dan juga akan mempengaruhi kesejahteraan dan kesehatan mentalnya. Agar kesejahteraan dan kesehatan mental ini tetap terjaga, maka individu perlu melakukan beberapa usaha untuk memelihara emosi-emosinya yang konstruktif. Dengan merujuk pada pemikiran James C. Coleman (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005), di bawah ini dikemukakan beberapa cara untuk memelihara emosi yang konstruktif.

  1. Bangkitkan rasa humor. Yang dimaksud rasa humor disini adalah rasa senang, rasa gembira, rasa optimisme. Seseorang yang memiliki rasa humor tidak akan mudah putus asa, ia akan bisa tertawa meskipun sedang menghadapi kesulitan.
  2. Peliharalah selalu emosi-emosi yang positif, jauhkanlah emosi negatif. Dengan selalu mengusahakan munculnya emosi positif, maka sedikit sekali kemungkinan individu akan mengalami emosi negatif. Kalaupun ia menghayati emosi negatif, tetapi diusahakan yang intensitasnya rendah, sehingga masih bernilai positif.
  3. Senatiasa berorientasi kepada kenyataan. Kehidupan individu memiliki titik tolak dan sasaran yang akan dicapai. Agar tidak bersifat negatif, sebaiknya individu selalu bertolak dari kenyataan, apa yang dimiliki dan bisa dikerjakan, dan ditujukan kepada pencapaian sesuatu tujuan yang nyata juga.
  4. Kurangi dan hilangkan emosi yang negatif. Apabila individu telah terlanjur menghadapi emosi yang negatif, segeralah berupaya untuk mengurangi dan menghilangkan emosi-emosi tersebut. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui: pemahaman akan apa yang menimbulkan emosi tersebut, pengembangan pola-pola tindakan atau respons emosional, mengadakan pencurahan perasaan, dan pengikisan akan emosi-emosi yang kuat.

B. Kesimpulan

1. Intelegensi adalah faktor total, berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan di dalamnya seperti ingatan, fantasi, perasaan, perhatian, minat dan sebagainya juga berpengaruh terhadapa intelegensi seseorang. Intelegensi adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru serta perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian.

2. Ciri-ciri intelegensi yaitu : merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional, tercermin dari tindakan yang terarah pada penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang tombul daripadanya.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi: pengaruh faktor bawaan, pengaruh faktor lingkungan, stabilitas intelegensi dan IQ, pengaruh faktor kematangan, pengaruh faktor pembentukan, minat dan pembawaan yang khas, kebebasan.

4. Emosi memiliki jenis yang berbeda-beda. Emosi terdiri dari sedih, takut, jijik, dan terkejut. Ragam emosi tidak memiliki acuan yang sama dan memiliki gradasi yang berbeda. Emosi bukanlah marah, melainkan marah adalah bagian dari emosi. Emosi berkembang karena motif dan gejolak perasaan. Emosi memiliki hubungan yang mempengaruhi terhadap kebiasaan.

5. Emosi yang muncul disertai reaksi fisiologis yang dapat dikenali, misalnya detak jantung meningkat cepat, tangan gemetar, ingin kabur, dan sebagainya. Ekspresi emosional berdasarkan pada mekanisme genetika, artinya, semua orang memiliki kemiripan dalam mengekspresikan emosi.

6. Emosi hakikatnya adalah salah satu bentuk dari komunikasi seseorang. Kala seseorang emosi, artinya dia sedang berupaya menyampaikan pesan kepada orang lain. Bentuk penyampaiannya berbeda-beda, bergantung pada lingkungan dan kondisisosialbudayayangmembentuknya.

MASRURI mahasiswa UIN JKT FITK KIMIA

Permalink 14 Komentar

sabar dan konsitensi keinginan

Desember 6, 2008 at 7:24 am (islam)

coba kita perhatikan pernyataan berikut ini

kalau Anda dipukul, sabar!

kalau Anda dimaki, sabar!

kalau Anda dirugikan orang, sabar!

lalu kenapa kalau kita tidak membalas orang yang memukul kita maka kita akan mendapat predikat sabar?

lalu kenapa kalau kita tidak membalas orang yang memaki kita maka kita akan mendapat predikat sabar?

lalu kenapa kalau kita tidak membalas orang yang merugikan kita maka kita akan mendapat predikat sabar?

apakah sabar identik dengan tidak membalas?

apakah sabar identik dengan tidak beraksi? kayaknya ada yang janggal kalo senadainya kita masukan orang yang tidak membalas ketika dizalimi,

lalu coba kita perhatikan juga pernyataan berikut

walaupun hujan anda tetap berangkat ke kantor karena sudah menjadi tugas ANda tetap berkerja di hari kerja,

walaupun mengantuk, Anda tetap bangun pagi untuk membuat sarapan

walaupun Anda merasa banyak sekali rintangan dalam menjalankan tugas Anda tetap bersikres datang ke kantor.

lalu coba kita simak makna sabar berikut ini ” patience is the ability to contimue doing something without losing interest, especially something difficult”

bagaimana tanggapan Anda tengtang makna sabar?

Muin

Permalink 1 Komentar

generasi penerus

Desember 6, 2008 at 6:57 am (islam)

Pendidikan diduga kuat merupakan institusi yang paling strategis untuk mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan. Mungkin kita sudah memahami dengan benar bahwa, sebagaimana Eric Fromm, tugas seorang pendidik adalah membantu anak didik untuk mencuatkan potensi-potensi khas yang ada di dalam diri anak didik. Pendidikan memang dapat dipadankan dengan kata education. Education sendiri berasal dari bahasa Latin, Educare, yang berarti “menarik keluar”. Apa yang ditarik keluar? Yang ditarik keluar adalah potensi-potensi yang tersimpan di setiap anak didik.
Banyak metodologi pembelajaran dalam pendidikan yang hanya memperhatikan aspek guru (subjek) pendidikan dan tidak memberikan ruang yang banyak terhadap objek pendidikan yaitu sisiwa. Padahal menurut Dani ronnie M dalam bukunya “ The Power of Emotional and Adversity Quotient for Teachers” peranan seorang guru tidak jauh dari peranan seorang tukang kebun yang menyiapkan lahan kebunya untuk ditanami pohon-pohon. Sang tukang kebun tadi hanya sebatas mempersiapkan lahan untuk pertumbuhan poho-pohon tersebut, dia tidak ikut campur dalam hal pertumbuhan pohon, buah pohon dan lain sebagainya, dia hanya memelihara tanaman itu dan tidak mengintervensi buah apa yang akan dihasilkan dari tanaman yang dipeliharanya.
Mungkin gambaran di atas dapat menjabarkan bagaimana peranan guru dalam mendidik muridnya. Peranan pendidik tidak lebih dari peranan tukang kebun terhadap tanamannya. Akan tetapi banyak sekali para guru khususnya guru matematika yang sungguh angkuh dan bahkan memaksa siswanya untuk mengikuti kemauannya bahkan memaksa untuk menjadi seperti dirinya.
Tidak ada alasan, tak perlu mencari kambing hitam. Karena memang banyak yang bisa menyebabkan kegagalan, namun tak satupun yang pantas dijadikan excuse. Seperti apa yang dibisikan oleh Rudyard Kipiling, “kita memiliki empat puluh juta penyebab kegagalan, namun tak ada satupun merupakan pembenaran!”. Ada lagi yang berpesan, “orang gagal biasannya kelebihan satu alasan, orang-orang sukses selalu saja kelebihan satu cara”.
Dari beberapa pernyataan di atas dapat penulis simpulkan bahwa pengajar (guru) tidak hanya masuk ke kelas bertemu para pembelajar, menyuruh ini-itu dan melarang ini-itu lalu keluar kelas dan pulang. Inikah yang kita anggap proses belajar mengajar? Kalau Cuma ini kita tak perlu mengikuti pendidikan yang tinggi-tinggi atau training yang hebat-hebat. Semua orang bisa melakukannya bahkan, orang yang tahu sedikit baca tulis ditambah sedikit wawasanpun bisa.
Mengajar itu akan efektif dan menggairahkan apabila kita menyatukan hati dan jiwa dengan pembelajar kita. Sehingga kita tahu persis apa yang mereka rasakan dan inginkan, karena kita berada di sisi yang sama. Kita memandang aktivitas belajra dari sudut pandang mereka. Setiap gerak hati dan suara-suara halus di jiwa mereka bisa kita tangkap dengan kejelian sang nurani. Kita tahu bagaimana membuat mereka berharga, termotivasi dan gembira, karena kita adalah mereka dan mereka adalah kita. Kita melebur dengan segala totalitas yang ada. Kita larut, menyatu dan all out! Pada level ini kita tidak perlu lagi memberi reward dan punishment. Yang ada semata-mata kegairahan belajar. Sebuah insting yang memang manusia miliki sejak lahir.
Seperti kita ketahui bersama para siswa belajar dengan kecepatan yang berbeda-beda, bukan satu, dan belajar dalam cara yang berbeda-beda. Mereka memiliki minat yang berbeda dan bakat-bakat khusus. Karena manusia adalah unik, maka tampaknya aneh jika sekolah mengharapkan para siswa untuk belajar dalam situasi yang sama dari satu buku teks atau metode pelajaran yang sama.
Lalu bagaimana dengan para siswa yang berlatar belakang berbeda, mempunyai kebiasaan berbeda, cita-cita berbeda dan lain sebagainya yang tidak mungkin disamakan?
Hal ini membuat peneliti ingin mengungkapkan betapa pentingnya untuk tidak menyamaratakan kemampuan siswa, akan tetapi bukan untuk membeda-bedakan. Tujuan peneliti adalah untuk membuat para siswa belajar sesuai karakteristik dan pola belajarnya.
Dalam dunia nyata manusia terbagi menjadi dua golongan besar yaitu laki-laki dan perempuan, walaupun terdapat golongan waria. Penting bagi penulis untuk dapat mengetahui karakteristik masing-masing untuk dapat membantu mereka dalam pengoptimalisasian potensi individu, bukan menjadikan sekolah tidak lebih dari rumah tahanan untuk menampung kaum muda. Lembaga hukuman di mana anak-anak dipaksa mengisi waktu selama bertahun-tahun.

MUIN

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Hello world!

November 24, 2008 at 12:50 am (islam)

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Permalink 1 Komentar